Thursday, 4 April 2013

LP TEORI ASKEP BRONCHIOLITIS

BAB 1
LANDASAN TEORI
BRONCHIOLITIS

1.1  Tinjauan Medis
1.1.1        Definisi
1.      Bronchiolitis adalah penyakit virus pada saluran pernafasan bawah yang ditandai dengan peradangan bronkioli yang lebih kecil. (Betz & Suwden, 2002; 37)
2.      Bronchiolitis adalah penyakit obstruksi akibat inflamasi akut pada saluran pernafasan kecil (broncheolus), terjadi pada anak berusia kurang dari 2 tahun dengan insiden tertinggi sekitar usia 6 bulan (Masjoer, 2000; 468)
1.1.2        Etiologi
Infeksi sering disebabkan oleh virus sinisial pernafasan (Respiratory Syncytial Virus/RSV). RSV ditularkan melalui droplet. Agen penyebab lain adalah adenovirus, parainfluenza dan rhinovirus.
1.1.3        Fisiologis Pernafasan
  1. Mekanisme Pernafasan
Pernafasan terdiri atas 2 bagian, inspirasi dan ekspirasi. Dada mengembang saat inspirasi, akibat pergerakan diafragma dan otot – otot intercosta. Ketika diafragma berkontraksi selama inspirasi, ia menjadi datar dan lebih rendah dan panjang rongga thorasik meningkat. Otot – otot intercosta eksternal, pada saat kontraksi, mengangkat tilang rusuk dan menariknya keluar, meningkat-kan kedalaman rongga thoraks. Saat dinding dada bergerak ke atas dan keluar dari pleura parietalis, yang melekat dengan baik pada dinding dada, pleura tersebut juga ikut terangkat. Pleura viceralis mengikuti pleura parietalis dan volume interior thoraks meningkat. Paru – paru mengembang untuk mengisi ruang tersebut dan udara diisap ke dalam broncheolus.
Ekspirasi selama pernafasan tenang bersifat pasif. Diafragma rileks dan kembali ke bentuk aslinya, yang berbentuk kubah. Otot – otot intercosta rileks dan tulang rusuk kembali ke posisi semula. Paru dan udara dikeluarkan melalui cabang – cabang broncheolus. Pada ekspirasi kuat, otot interkosta internal berkontraksi secara aktif untuk menurunkan tulang rusuk. Otot pernafasan tambahan kemungkinan digunakan selama nafas dalam atau ketika jalan nafas terhambat. Selama inspirasi, otot – otot sternokleidomastoideus mengangkat sternum dan meningkatkan diameter thoraks dari depan ke balakang. Seratus nterior dan pectoralis myor menarik tulang rawan kea rah luar saat lengan dirapatkan. Laktasimus dorsi dan otot – otot dinding abdomen membantu menekan thoraks selama ekspirasi kuat.
  1. Pengontrolan Pernafasan
Pernafasan dikontrol oleh pusat pernafasan di medulla oblongata. Akumulasi CO2 di dalam darah menstimulasi kemoreseptor di arteri – arteri besar. Impuls dihantarkan oleh saraf vagus dan saraf glosofaringeus ke pusat pernafasan oleh saraf frenik ke diafragma dan oleh saraf intercostae ke otot intercostae. Impuls ini menyebabkan otot berkontraksi dan terjadilah inspirasi.

1.1.4       
Virus
   Droplet
Saluran napas bawah
(bronchioli)
Radang bronchioli
Infiltrasi sel
Edema membran mukosa
Produksi mukus meningkat
Rusaknya alveolar kapiler
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Obstruksi jalan napas
Hiperinflamasi
Hipoksemia
Peningkatan frekuensi napas
Atelektasis
Suplay O2 menurun dan kebutuhan O2 meningkat
Hipertermi
Metabolisme tubuh meningkat
Pengeluaran reseptor radang
Peningkatan kerja pernapasan
Dyspnea, cyanosis, malaise
Gangguan pertukaran gas
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Kurang informasi
Kurang pengetahuan tentang kondisi penyakit
Penurunan asupan makanan
Web Of Caution ( WOC )






































1.1.5        Manifestasi Klinis
  1. Infeksi saluran pernafasan atas selama 1 – 4 hari, kemudian fase akut selama 2 – 6 hari, akan sembuh dalam 7 – 14 hari.
  2. Pernafasan sulit (cepat dan dangkal dengan cuping hidung mengembang dan retraksi).
  3. Mengi ekspiratori pada awitan akut.
  4. Anoreksia dan sukar makan
  5. Serangan batuk keras paroksimal.
  6. Sianosis.
  7. Ronchi yang dapat didengar dan dipalpasi.
  8. Kisaran suhu : normal sampai 40,6 0 C
  9. Malaise.
  10. Produksi mucus meningkat.
  11. Iritabilitas.
  12. Takipnea dan tidur yang tidak tenang ( diatas batas normal sesuai usia )

1.1.6        Komplikasi
  1. Atelektasis (akut)
  2. Apnea (akut)
  3. Keletihan pernafasan atau gagal nafas (akut)
  4. Infeksi paru kambuhan (jangka panjang).

1.1.7        Pemeriksaan Penunjang
  1. Periksa foto thoraks (hiperinflasi dengan udara yang terperangkap, atelektasis, infiltrasi perihiler ringan) dengan criteria diagnostic yang sangat bervariasi.
  2. Uji antibody fluoresen cepat terhadap RSV (Respiratory Syncytial Virus).
  3. Analisis gas darah arteri: hiperkarbia sebagai tanda air trapping, asidosis metabolic, atau respiratorik.
  4. Jumlah sel darah putih.

1.1.8        Penatalaksanaan
  1. Pemberian oksigen 1 – 2 liter per menit.
  2. Koreksi gangguan asam basa dan alektrolit.
  3. IVFD ( Jumlah cairan sesuai BB, kenaikan suhu dan status hidrasi ).
  4. Antibiotika :
1)      Bronchiolitis Community Base
a)      Ampicilin 100 mgkgBB/hari dalam 4x pemberian.
b)      Klorampenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4x pemberian.
2)      Bronchiolitis Hospital
a)      Cefotaxim 100 mg/kgBB/hari dalam 2x pemberian
b)      Amikasin 10 – 15 mg/kgBB/hari dalam 2x pemberian
  1. Steroid
Dexametason 0,5 mg/kgBB/hari inisial, dilanjutkan 0,5 mg/kgBB/hari dibagi 3 – 4 dosis.
  1. Inhalasi dengan normal salin dan beta agonis, bronchodilator untuk memperbesar transport mukosiler.

1.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan
1.2.1 Pengkajian
1.2.1.1 Anamnesa
  1. Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan genetik.
  2. Riwayat pasien tentang disfungsi pernafasan sebelumnya, bukti terbaru penularan terhdap infeksi, allergen atau iritan lain, trauma.
1.2.1.2 Pemeriksaan Fisik
  1. Aktivitas / Istirahat
Gejala              : Keletihan, kelemahan, malaise umum, toleransi terhadap latihan rendah.
Tanda              :  Takikardia/takipnea, dispnea pada saat beraktivitas/istirahat, kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
  1. Sirkulasi
Gejala              : hiperventilasi, sianosis, berkeringat
Tanda              : Kisaran suhu: normal sampai 40,6 0 C, perfusi pada akral dingin
  1. Integritas Ego
                        Gejala              :  Keyakinan/budaya keluarga dalam penataan lingkungan yang sehat dan bebas alergi
Tanda              : Anak/keluarga sring mengalami ISPA, batuk alergi.
  1. Makanan / Cairan
                        Gejala              :  Penurunan masukan diet, anoreksia, adanya dyspneu dan malaise.
                     Tanda              :  Turgor kulit jelek, tampak kusut dan hilang elastisitas.



  1. Pernafasan
            Gejala                 : Batuk (keras, paroksimal, iritatif dan non produktif dan menjadi produktif dengan sputum yang banyak, jernih dan kental)
            Tanda              : Nafas pendek, fase ekspirasi memanjang, terdapat ronchi pada lapang paru, sering tampak pucat, gelisah, ketakutan, ekspresi wajah cemas.

1.2.2        Rencana Asuhan Keperawatan Teoritis
1.2.2.1  Diagnosa Keperawatan 1
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi mucus / secret meningkat
Batasan karakteristik
Mayor :
a)      Batuk tidak efektif atau tidak ada
b)      Tidak mampu mengeluarkan sekret di jalan nafas.
Minor :
a)      Suara nafas tambahan (mengi, ronchi, krekels)
b)      Jumlah, irama, kedalaman pernafasan tidak normal.
Tujuan             :  Pasien menunjukkan perbaikan kapasitas ventilasi/bersihan jalan nafas efektif.
Kriteria hasil    :
a)      Anak bernafas dengan mudah tanpa dispnea
b)      Anak menunjukkan kapasitas ventilasi yang membaik (batuk efektif, dan mengeluarkan sekret)
c)      Anak tidak mengalami aspirasi
Intervensi :
1.      Instruksikan dan / atau awasi latihan pernafasan dan pernafasan terkontrol
R   : Meningkatkan pernafasan diafragmatik yang tepat, ekspansi sisi dan perbaikan mobilitas dinding dada.
2.      Gunakan tehnik bermain untuk latihan pernafasan pada anak kecil (meniup gasing, atau bola – bola kapas di meja)
R   :  Memperpanjang waktu ekspirasi dan meningkatkan waktu ekspirasi.
3.      Auskultasi bunyi paru / suara nafas.
R   : Bunyi nafas tambahan yang terdengar pada waktu inspirasi atau ekspirasi merupakan respon terhadap pengumpulan cairan, sekret kental dan spasme jalan nafas.
4.      Kaji frekuensi atau kedalaman peningkatan gerakan dada.
R   :  Takipnea, pernafasan dangkal sering terjadi karena atelektasis atau akumulasi sekret.
5.      Beri posisi tidur yang nyaman bagi pasien, missal peninggian TT.
R   :  Mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.
6.      Anjurkan untuk minum air / susu hangat.
R   :  Air hangat membantu mempermudah pengenceran sekret sehingga mudah keluar.
7.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat bronchodilator, nebulizer, analgesic dan antitusif.
R   :  Bronchodilator merelaksasikan otot halus dan menurunkan kongesti local, menurunkan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mucus. Nebulizer menimbulkan kelembaban menurunkan kekentalan sekret sehingga mempermudah pengeluaran sekret.

1.2.2.2  Diagnosa Keperawatan 2
Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh sekunder terhadap adanya hiperinflamasi.
Batasan Karakteristik :
Mayor :
Suhu lebih tinggi dari 37,8 0 C per oral atau 38,8 0 C ( 101 0 F ) per rectal.
Minor :
a)      Kulit kemerahan.
b)      Hangat pada sentuhan.
c)      Peningkatan frekuensi pernafasan.
d)     Takikardia.
e)      Menggigil / merinding.
f)       Dehidrasi
g)      Sakit dan nyeri yang spesifik atau umum ( mis : sakit, malaise / kelelahan / kelemahan ).
h)      Kehilangan nafsu makan.
Tujuan        : Pasien menunjukkan penurunan suhu tubuh dalam keadaan normal. (36-37o C)
Kriteria hasil :
(1)    Anak tidak mengeluh badannya panas lagi
(2)    Kedinginan berkurang
(3)    Anak tidak tampak menggigil
(4)    Suhu tubuh badan nomal 36-37 0 C
Intervensi
1.      Beri pasien baju yang tipis
R : Mempercepat evaporasi atau penguapan panas tubuh
2.      Berikan banyak air putih dan motivasi pasien untuk minum sebanyak-banyaknya
R : Membantu menurunkan suhu tubuh
3.      Berikan kompres air hangat
R : Membuka pori-pori kulit sehingga mempercepat penguapan panas tubuh
4.      Observasi TTV terutama suhu setiap 4 jam
R : Memantau perkembangan pasien dan menentukan intervensi selanjutnya
5.      Batasi aktivitas pasien
R : Mengurangi produksi panas tubuh
6.      Beri HE tentang pentingnya minum yang banyak
R : Meningkatkan pengetahuan pasien dan mempercepat proses penyembuhan pasien
7.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik
R : Untuk menurunkan panas

1.2.2.3 Diagnosa Keperawatan 3
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan kerja pernapasan
Batasan Karakteristik
Mayor:
a)      Perubahan frekuensi pernafasan
b)      Perubahan nadi (frekuensi, irama, kualitas)
Minor:
a)      Takipnea, hipernea, hiperventilasi
b)      Irama pernafasan tidak teratur
c)      Pernapasan yang berat
Tujuan
a)      Dapat menurunkan tanda dan gejala gangguan pertukaran gas
b)      Pasien dapat menunjukkan peningkatan perubahan pertukaran gas seperti tanda vital, nilai AGD dan ekspresi wajah.

Kriteria Hasil
(1)    Menunjukkan frekuensi pernafasan yang efektif
(2)    Menyatakan gejala berkurang
(3)    Menyatakan faktor-faktor penyebab dan menyatakan cara koping adaptif untuk mengatasinya
Intervensi dan rasional
  1. Observasi TTV
R :    Mengidentifikai keadaan pasien dalam intervensi yang diberikan
  1. Kaji adanya bunyi nafas tambahan, peningkatan pernafasan, terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan
R :    Infeksi pada paru menyebabkan efek luas pada paru, efek pernapasan dapat dari ringan sampai dispnea berat sampai distress pernafasan
  1. Berikan posisi tidur semi fowler
R :    Posisi semi fowler memaksimalkan ekspansi paru
  1. Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran, catat sianosis dan atau perubahan warna kulit termasuk membran mukosa dan kuku
R :    Akumulasi secret atau pengaruh jalan nafas dapat mengganggu oksigenasi organ vital jaringan
  1. Tingkatkan tirah baring atau batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai keperluan
R :    Menurunkan konsumsi oksigen atau kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan beratnya gejala
  1. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian oksigen
R :    Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi atau menurunnya permukaan alveolar paru
  1. Kolaborasi dalam pemberian obat
R :    Dengan terapi pengobatan dapat mempercepat proses penyembuhan

1.2.2.4  Diagnosa Keperawatan 4
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan asupan makanan karena sesak nafas; malaise
Mayor :
Individu mengalami masukan makanan yang tidak adekuat
Minor :
a)      BB badan 10% - 20% di bawah normal
b)      Kelemahan otot dan sesak nafas

Tujuan :
Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat dalam waktu 2 x 24 jam
Kriteria  hasil :
a)      Pasien senang bila makan
b)      Nafsu makan meningkat
c)      Porsi makan yang diberikan selalu habis
Intervensi dan rasional :
1.      Berikan makanan yang disertai dengan suplemen vitamin untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
R : Untuk meningkatkan nafsu makan sebagai pemenuhan terhadap nutrisi
2.      Anjurkan untuk makan-makanan dengan porsi kecil tapi sering
R : Untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi dan dapat menurunkan kejenuhan makan serta meningkatkan nafsu makan
3.      Jelaskan pengertian intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan
R : Untuk memberikan motivasi agar kebutuhan nutisi terpenuhi
4.      Bantu orang terdekat atau orang tua mengembangkan keseimbangan nutrisi
R : Meningkatkan pemahaman kebutuhan individu terhadap pentingnya nutrisi sebagai penunjang keseimbangan pasien
5.      Menimbang berat badan tiap hari
R : Untuk mendeteksi tingkat kekurangan nutrisi dari pada pasien
6.      Kolaborasi dalam pemberian diit
R : Untuk memenuhi kebutuhan nutisi yang adekuat

1.2.2.5  Diagnosa Keperawatan 5
Kurang pengetahuan tentang proses penyakit berhubungan dengan proses informasi yang kurang.
Batasan karakteristik :
Mayor  :
a)      Menyatakan kurangnya pengetahuan atau ketrampilan/meminta informasi.
b)      Mengekspresikan persepsi yang “tidak akurat“ terhadap kondisi kesehatan nya.
c)      Menampilkan secara tidak tepat perilaku sehat yang diinginkan atau yang mudah ditentukan.
Minor  :
a)      Kurang integrasi rencana tindakan ke dalam kegiatan sehari – hari.
b)      Menunjukkan atau mengekspresikan gangguan psikologis (misal : cemas, depresi yang diakibatkan oleh salahnya informasi atau kurangnya informasi).
Tujuan             :
Setelah mendapatkan tindakan keperawatan, pengetahuan orang tua pasien tentang proses penyakit bertambah.
Kreteria hasil :
a)      Orang tua pasien mengungkapkan sudah jelas tentang proses penyakit yang dialami anaknya.
b)      Orang tua pasien dapat menjelaskan kembali tentang proses penyakit yang dialami anaknya.
Intervensi dan rasional            :
1.      Kaji tingkat ketidaktahuan pasien atau keluarga pasien tentang cara minum obat
R :             Identifikasi sejauh mana informasi yang dibutuhkan pasien / keluarga   tentang pemberian terapi pengobatan
2.      Kaji tingkat pendidikan pasien / keluarga pasien.
R : Identifikasi pendidikan pada sasaran perawatan sehingga dapat memberikan informasi sesuai dengan kemampuan penerimaan sasaran
3.      Diskusikan bersama keluarga / sasaran keperawatan tentang proses penyakit.
R : Memberi kesempatan bagi keluarga / sasaran keperawatan untuk mengungkapkan perasaan / pengetahuannya tentang penyakit yang diderita pasien dan perawat dapat lebih leluasa untuk memberi masukan dan saran kepada sasaran keperawatan.
4.      Beri HE tentang proses penyakit yang dialami pasien.
R : Memberikan informasi tentang proses penyakit yang dialami pasien.
5.      Evaluasi pengetahuan sasaran perawatan tentang proses penyakit yang dialami pasien
R : Identifikasi penerimaan sasaran perawatan setelah mendapat  informasi.

0 comments:

Post a Comment