Selasa, 30 April 2013

LP TEORI ASKEP DEMAM THYPOID

BAB 1
LANDASAN TEORI
THYPUS ABDOMINALIS

1.1  Tinjauan Toeri Thypus Abdominalis
1.1.1        Definisi
Thypus abdominalis adalah suatu penyakit infeksi pada usus halus dengan gejala satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. ( Rampengan,1990 )

Thyfus abodminalis adalah infeksi penyakit akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran. (Soeparman, 2001)


1.1.2        Etiologi
1.      Salmonella typhosa, basil gram negatif yang bergerak dengan rambut getar  dan tidak berspora.
2.      Masa inkubasi 10 – 20 hari.

1.1.3        Fisiologi
      Susunan saluran pencernaan terdiri dari : oris (mulut), faring (tekak), esophagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus), intestinum mayor (usus besar), rectum dan anus. Pada kasus demam thypoid, salmonella typi berkembang biak di usus halus ( intestinum minor ). Intestinum minor adalah bagian dari system pencernaan makanan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari : lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam ), lapisan otot melingkar (muskulus sikuler), lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa ( sebelah luar ).
      Usus halus terdiri dari duodenum ( usus 12 jari ), yeyenum dan ileum. Duodenum disebut juga usus 12 jari, panjangnya ± 25 cm, berbentuk sepatu kuda mlengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pancreas. Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lender yang membukit yang disebut papilla vateri. Pada papilla vateri  ini bermuara saluran empedu (duktus koledikus) dan saluran pancreas ( duktus wirsung/duktus pankreatikus). Dinding duodenum ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
      Yeyenum dan ileum mempuyai panjang sekitar ± 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyenum dengan panjang ± 23 meter dari ileum dengan panjang 4 – 5 meter. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan kipas dikenal sebagai mesenterium.
      Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang – cabang arteri dan vena meenterika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritoneum yang membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas ang tegas.
      Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter ileoseikalis dan pada bagisn ini terdapat katup valvula seikalis atau valvula baukhim yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam asendens tidak masuk kembali ke dalam ileum.
      Mukosa usus halus merupakan permukaan epitel yang sangat luas melalui lipatan mukosa dan mikrovili memudahkan pencernaan dan absorbsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Pada penampang melintang vili dilapisi oleh epitel dan kripta yang menghasilkan bermacam – macam hormone jaringan dan enzim yang memegang perangan aktif dalam pencernaan.
      Di dalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel, termasuk banyak leukosit. Disana – sini terdapat beberapa nodula jaringan limfe, yang disebut kelenjar soliter. Di dalam ileum terdapat kelompok – kelompok nodula itu. Mereka membentuk tumpukan kelenjar peyer dan dapat berisi 20 sampai 30 kelenjar soliter yang panjangnya 1 cm sampai beberapa cm. Kelenjar – kelenjar ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat peradangan pada demam thypoid. Sel – sel Peyer’s adalah sel – sel dari  jaringan limfe dalam membrane mukosa. Sel tersebut lebih umum terdapat pada ileum daripada yeenum.(Evelyn C.Pearce,2000)
      Absorbsi makanan yang sudah dicernakan seluruhnya berlangsung dalam usus halus melalui 2 saluran, yaitu pembuluh kapiler dalam darah dan saluran limfe di sebelah dalam permukaan vili usus. Sebuah vili berisikan lacteal, pembuluh darah epithelium dan jaringan otot yang diikat bersama jaringan limfoid seluruhnya diliputi membrane dasar dan ditutupi oleh epithelium.
      Karena vili keluar daridinding usus maka bersentuhan dengan makanan cair dan lemak yang diabsorbsi ke dalam lacteal kemudian berjalan melalui pembuluh limfe masuk ke dalam pembuluh kapiler di vili dan oleh vena porta dibawa ke hati untuk mengalami beberapa perubahan.
      Fungsi usus halus :
1)      Menerima zat –zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler – kapiler darah dan saluran – saluran limfe.
2)      Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
3)      Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida.  
Di dalam usus halus terdapat kelenjar ang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan, yaitu :
1)      Enterokinase, mengaktifkan enzim proteolitik.
2)      Eripsin menyempurnakan pencernaan protein menjadi asam amino :
(1)   Laktase mengubah lactase menjadi monosakarida.
(2)   Maltosa mangubah maltosa menjadi monosakarida
(3)   Sukrosa menguba sukrosa menjadi monosakarida.

1.1.4        Patofisiologi






























Salmonella typhosa masuk melalui mulut, sebagian akan dimusnahkan dalam lambung dan sebagian lagi masuk kedalam usus halus, kejaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian masuk keperdarahan darah.
Selanjutnya kuman masuk kebeberapa jaringan organ tubuh, terutama limpa, usus, dan kandung empedu.
Pada minggu pertama sakit, terjadi hiperplasia plaks peyer pada kelenjar limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plaks peyer. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik lalu terjadi perdarahan bahkan sampai perforasi usus.
Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus halus.

1.1.5        Manifestasi Klinis
1.      Nyeri kepala, lemah, lesu.
2        Demam yang tidak terlalu tinggi dan berlangsung selama tiga minggu.
3        Gangguan pada saluran cerna : bibir kering dan pecah-pecah, lidah ditutupi   selaput putih kotor, mual, tidak nafsu makan dan disertai nyeri pada perabaan.
4        Gangguan kesadaran : penurunan kesadaran (somnolen apatis).

1.1.6        Pemeriksaan Penunjang 
1.      Pemeriksaan darah tepi
Didapatkan adanya anemia oleh karena intake makanan yang terbatas, terjadi gangguan absorbsi, hambatan pembentukan darah dalam sumsum dan penghancuran sel darah merah dalam peredaran darah. Leukopenia dengan jumlah lekosit antara 3000 – 4000 / mm3 ditemukan pada fase demam. Hal ini diakibatkan oleh penghancuran lekosit oleh endotoksin. Aneosinofilia yaitu hilangnya eosinofil dari darah tepi. Trombositopenia terjadi pada stadium panas yaitu pada minggu pertama. Limfositosis umumnya jumlah limfosit meningkat akibat rangsangan endotoksin. Laju endap darah meningkat.          
2.   Pemeriksaan urine
Didapatkan proteinuria ringan ( < 2 gr/liter ) juga didapatkan peningkatan lekosit dalam urine.

3.   Pemeriksaan tinja
Didapatkan adanya lendir dan darah, dicurigai akan bahaya perdarahan usus dan perforasi.
4.   Pemeriksaan bakteriologis
Diagnosa pasti ditegakkan apabila ditemukan kuman salmonella dan biakan darah tinja, urine, cairan empedu atau sumsum tulang.
5.   Pemeriksaan serologis
Pemeriksaan IGM Salmonela yang menunjukkan positip jika > 6.
6.   Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah ada kelainan atau komplikasi akbat demam thypoid.

1.1.7    Komplikasi
1.      Usus          : Perdarahan usus, melena, perforasi usus, peritonitis.
2.      Organ lain : Meningitis, kolesistitis, ensefalopati, bronkopneumoni.

1.1.8    Penatalaksanaan
1.   Tirah baring total selama demam sampai dengan 2 minggu normal kembali. Seminggu kemudian boleh duduk dan selanjutnya berdiri dan berjalan.
2.   Makanan harus mengandung cukup cairan , kalori dan tinggi protein, tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas.
3.      Obat terpilih adalah  kloramfenikol 100 mg/KGB/hari dibagi dalam                   4 dosis selama 10 hari. Dosis maksimal klorampenikol 2 g/hari. Kloramphenikol tidak boleh diberikan bila jumlah leukosit ≤ 2000/ul. Bila pasien alergi dapat diberikan golongan penisilin atau kotrimoksazol.










1.2 Asuhan Keperawatan Teoritis
1.2.1    Anamnesa
1.       Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku bangsa, agama, tanggal MRS, nomor register dan diagnosa medik.
2.       Keluhan utama
Keluhan utama demam tifoid adalah panas / demam yang tidak turun temurun, nyeri perut, kepala pusing, mual, muntah, anoreksia, diare serta penurunan kesadaran.
3.       Riwayat penyakit sekarang
Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman Salmonella typhi ke dalam tubuh.
4.       Riwayat penyakit dahulu
Apakah sebelumnya pernah sakit demam thypoid.
5.       Riwayat penyakit keluarga
Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, DM.
6.       Riwayat psikososial dan spiritual
Biasanya anak rewel, bagaimana koping yang digunakan.
7.       Pola fungsi kesehatan
1)      Pola nutrisi dan metabolisme
Anak akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual dan muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali.
2)      Pola eliminasi
Eliminasi alvi. Anak dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama. Sedangkan elimnasi urine tidak mengalami gangguan, hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan. Klien dengan demam thypoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga dapat meningkatkan kebutuhan cairan tubuh.
3)      Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total, agar tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.
4)      Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan dengan peningkatan suhu tubuh.

1.2.2    Pemeriksaan fisik
1.      Keadaan umum
Didapatkan anak tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38 – 41 0 C, muka kemerahan.
2.      Tingkat kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu apatis sampai somnolent. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah ( kecuali bila penyakitnya berat dan terlambat mendapat pengobatan ).
3.      Sistem respirasi
Pernafasan rata – rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam dengan gambaran seperti bronchitis.
4.      Sistem integumen
Kulit kering, turgor kulit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam.
5.      Sistem gastrointestinal
Bibir kering pecah – pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor ( khas ), mual, munyah, anoreksia dan konstipasi, nyeri perut, perut terasa tidak enak, peristaltik usus meningkat.
6.      Sistem muskuloskeletal
Klien lemah.
7.      Sistem abdomen
Dapat ditemukan keadaan perut kembung ( meteorismus ), peristaltik usus meningkat.

1.2.3 Rencana Asuhan Keperawatan
1.2.3.1 Diagnosa keperawatan 1
            Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan metabolisme tubuh meningkat
1)      Tujuan                   : Suhu tubuh turun sampai batas normal.
2)      Batasan karakteristik :
(1)               Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal
(2)                Kejang atau konvulsi
(3)               Takikardi
(4)               Frekuensi nafas meningkat
(5)               Diraba hangat
(6)               Kulit memerah


3)      Kriteria hasil          :
(1)               Suhu tubuh dalam batas normal 36 – 37 0 C
(2)               Anak bebas demam
4)      Intervensi dan rasional
(1)   Bina hubungan baik dengan klien anak dan keluarga.
R :    Dengan hubungan yang baik dapat meningkatkan kerjasama dengan klien sehingga pengobatan dan perawatan mudah dilaksanakan.
(2)   Berikan kompres dingin dan ajarkan cara kompres yang benar.
R :    Pemberian kompres dingin akan meningkatkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga merangsang penurunan suhu tubuh.
(3)   Peningkatan kalori dan beri banyak minuman (cairan)
R :    Air merupakan pengatur suhu tubuh. Setiap ada kenaikan suhu melebuhi normal, kebutuhan metabolisme air juga meningkat dari kebutuhan setiap ada kenaikkan suhu tubuh.
(4)   Anjurkan memakai baju tipis dan menyerap keringat.
R :    Baju yang tipis akan mudah menyerap keringat yang keluar karena adanya proses evaporasi.
(5)   Observasi tanda – tanda vital terutama suhu dan denyut nadi.
R :    Observasi TTV merupakan deteksi dini untuk mengetahui komplikasi yang terjadi sehingga cepat mengambil tindakan.
(6)   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antipiretik.
R :    Untuk menurunkan suhu tubuh.

1.2.3.2 Diagnosa keperawatan 2
            Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah
1) Tujuan                     : Kebutuhan cairan dalam tubuh klien dapat terpenuhi    secara optimal
2) Batasan karakteristik: 
(1)   Kelemahan
(2)   Haus
(3)   Penurunan turgor kulit
(4)   Membrane mucus / kulit mengering
(5)   Nadi meningkat, tekanan darah menurun, volume / tekanan nadi menurun.
(6)   Penurunan pengisian kapiler.
(7)   Penurunan status mental.
(8)   Penurunan urin output
(9)                                                Peningkatan konsentrasi urin
(10)  Peningkatan suhu tubuh
(11)  Hematokrit meningkat
(12)  Kehilangan berat badan mendadak
3)  Kriteria hasil             :
      (1)  Tidak terdapat tanda – tanda dehidrasi ( mukosa mulut dan bibir kering, turgor kulit turun ).
      (2) TTV dalam batas normal ( suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan ).
4)   Intervensi dan rasional
(1)   Pantau intake output tiap 6 jam.
R : Pemenuhan cairan (input) dan koreksi terhadap kekurangan cairan yang keluar serta deteksi dini terhadap keseimbangan cairan.
                  (2)  Beri cairan (minum banyak 2 – 3 liter perhari) dan elektrolit setiap hari
R : Cairan yang terpenuhi dapat membantu metabolisme dalam keseimbangan suhu tubuh.
                  (3)  Masukan cairan diregulasi pertama kali karena adanya rasa haus.
R : Haluaran cairan diregulasi oleh kemampuan ginjal untuk memekatksn urine.
                  (4)  Timbang BB secara efektif
R : Kehilangan BB 2 – 5 % menunjukkan dehidrasi ringan , 5 – 9 % menunjukkan dehidrasi sedang.
                  (5)  Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian cairan secara IV.
R : Untuk pemenuhan cairan tubuh yang akan digunakan untuk metabolisme.

1.2.3.3 Diagnosa keperawatan 3
            Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual / muntah
            1)   Tujuan       : Kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi secara optimal.
            2)   Batasan karakteristik :
(1)               Berat badan di bawah ideal lebih dari 20 %
(2)               Konjungtiva dan membran mucus pucat
(3)               Lemah otot untuk menelan
(4)               Penurunan berat badan dengan intake makanan adekuat
(5)               Tonus otot buruk
(6)               Suara usus hiperaktif
(7)               Kerusakan minat terhadap makanan
(8)               Pembuluh kapiler rapuh

            3)   Kriteria hasil          :
                  (1) Orang tua klien mengatakan anaknya mau makan.
                  (2) Tidak terdapat tanda – tanda malnitrisi
            4)   Intervensi dan rasional
                  (1) Diskusikan bersama orang tu tentang asupan nutrisi anak.
R : Identifikasi kebiasaan dalam pemenuhan asupan nutrisi dan gangguan yang dialami diperlukan untuk pemberian intervensi berikutnya.
                  (2)  Pantau masukan makanan yang dihabiskan pasien.
R : Identifikasi tentang kebutuhan masukan makanan.
                  (3)  Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan sedikit – sedikit tetapi sering.
R : Buruknya toleransi terhadap makan banyak mugkin berhubungan dengan adanya rasa mual dan muntah.
                  (4)  Kolaborasi dengan ahli gizidalam pemberian diit lambung.
                        R :  Pemberian nutrisi sesuai dengan kebutuhan pencernaan.

1.2.3.4 Diagnosa keperawatan 4
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya pendesakan pada daerah ulu hati sekunder terhadap terjadinya hepatomegali.
1)   Tujuan                   : Pasien dapat beradaptasi dengan keadaan nyerinya.
2)   Batasan karakteristik :
(1)    Melaporkan nyeri secara verbal maupun non verbal
(2)    Tingkah laku berhati-hati
(3)   Tingkah laku ekspresif ( gelisah, merintih, menangis, waspada, mengeluh, nafas panjang)
(4)   Respon otonom (perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi, dilatasi pupil)
(5)   Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau)
3)  Kriteria Hasil :
(1)  Orang tua melaporkan anaknya tidak mengeluh nyeri pada perutnya.
(2)  Orang tua melaporkan anaknya mau minum obat.
4)  Intervensi dan rasional
(1)  Berikan tidakan kenyamanan dasar ( misal : reposisi ) dan aktivitas hiburan ( misal : musik, televisi ).
R : Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian.
(2)  Dorong orang tua dalam penggunaan ketrampilan manajemen nyeri pada anak (misal : tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi ).
R : Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa control.
(3)  Beri posisi yang nyaman bagi pasien.
R :       Meningkatkan relaksasi bagi pasien.
(4)  Kolaborasi dalam pemberian analgesic
R :       Menekan pengeluaran reseptor nyeri.



























DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (1997). Keperawatan Medical Bedah. Volume 2. Jakarta : EGC

Kariasa, I Made & Sumarwati, Ni Made, Skp., (Alih Bahasa)., Marilyn E., Doenges, RN, BSN, MA, cs dkk. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien). Jakarta : EGC.

Marilyn E., Doengus. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi Ketiga. Jakarta : EGC.

Nursalam,RekawatiS,Sri Utami.(2005). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak ( Untuk Perawat dan Bidan ); Edisi Pertama.Jakarta : Salemba Medika

Suriadi, Yuliani Rita. (2001). Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta.

Soeparman. (2001). Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

0 komentar:

Poskan Komentar