Selasa, 30 April 2013

LP TEORI ASKEP DIABETES MELITUS

BAB 1
TINJAUAN TEORI

1.1  Tinjauan Medis
1.1.1        Pengertian
Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu sindrom metabolik dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defesiensi insulin atau berkurangnya biologis dari insulin  (Mansjoer, Arif , 2000).
Diabetes Mellitus adalah kelainan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, syaraf dan pemeriksaan dengan mikroskop electron (Suyono, 2004).
Gangren diabetik adalah luka yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar ditungkai (Askandar, 2001).
Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi  (Askandar, 2001).
Diabetes Mellitus adalah penyakit yang menaun dalam tingkat yang nyata memperlihatkan gangguan metabolisme karbohidrat sehingga didapati hyperglikemi dan glukosaria (Junaidi, 1982).

1.1.2        Etiologi
1)      Gangguan pada pembentukan insulin, misal : pada penyakit pankreas
Yaitu :
1.       Pankreatitis
2.       Herediter kurang lebih 25%
3.       Adanya kegagalan relatif sel b pankreas dan resistensi terhadap insulin
4.       Gangguan pada otot yaitu hipofise








1.1.3        Patofisiologi


 



Diabetes Mellitus dapat disebabkan oleh 2 faktor pencetus yaitu faktor keturunan dan faktor auto imun yang dapat mengakibatkan kerusakan pada sel b pancreas sehingga terjadi defisiensi insulin, dan akhirnya insulin tidak mampu mentoleril kadar glucose sehingga terjadi kekacauan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak, setelah itu terjadi angiopati, hyperglikemi, dan neuropati, pada angiopati dapat menyebabkan penyakit makro vesikuler dan penyakit pembuluh darah arteri kecil, pada penyakit makro vaskuler menyebabkan trombosis dengan oklusi pembuluh darah besar yang dapat mengakibatkan luka yang fatal yaitu ganggren area besar mengakibatkan sepsis sehingga harus dilakukan amputasi, sehingga pada klien
terjadi gangguan citra tubuh oleh karena kurang pengetahuan. Sedangkan pada pembuluh darah arteri kecil dapat menyebabkan 2 kemungkinan terjadinya penyakit yaitu penyakit makro dan vesikuler. Pada penyakit makro menyebabkan gangren kecil sehingga mengakibatkan kerusakan integritas kulit, pada penyakit vaskuler dapat menyebabkan perubahan kulit
® atrofi sehingga terjadi ulserasi dan menyebabkan resiko tinggi infeksi, pada hyperglikemia menyebabkan diuresis osmotic dan menimbulkan dehidrasi sehingga terjadi kurang volume cairan dan pada neuropati terjadi penurunan sekresi dan mengakibatkan trauma chemis formal sehingga terjadi nyeri.

1.1.4        Klasifikasi
1)      Diabetes Tipe tergantung insulin (Type I )
2)      Diabetes Tipe tidak tergantung insulin (Type II)
(1)   Gemuk
(2)   Tidak gemuk
3)      Diabetes Berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu
(1)   Penyakit pankreas
(2)   Hormonal
(3)   Bahan kimia
(4)   Kelainan genital

1.1.5        Manifestasi Klinis
1)      Fase akut (Gejala 3 P yaitu ) :
(1)   Poliuria
(2)   Polifagia
(3)   Polidipsi
2)      Fase lanjut
(1)   Gejala 3P
(2)   Berat badan menurun
3)      Keadaan lain
1.      Mual
2.      Mudah lelah
3.      Kesemutan
4.      Gatal
4)      Mata kabur
5)      Nyeri sendi
6)      Impotensi pada pria

1.1.6        Pemeriksaan Penunjang
1)      Perlu dilakukan pada kelompok dengan resiko tinggi untuk diabetes mellitus antara lain :
(1)    Usia lebih 40 tahun
(2)    Obesitas
(3)    Hipertensi
(4)    Riwayat keluarga dengan diabetes mellitus
(5)    Riwayat kelahiran dengan BB lebih dari 4 Kg
(6)    Riwayat Diabetes Mellitus pada kehamilan
2)      Dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu-waktu, kadar glukosa darah puasa
3)      Tes toleransi glukosa Oral (TTGO)

Hal yang perlu diperhatikan antara lain
1)      Motivasi
Pasien Diabetes Mellitus tidak dapat disembuhkan, tapi kadar gula dapat diturunkan.
2)      Diet
Tujuan diet :
(1)    Mengakibatkan pertumbuhan yang normal
(2)    Mengarahkan BB normal
(3)    Mempertahankan BB normal
(4)    Mencegah komplikasi
Pedoman diet :
(1)    Jumlah
(2)    Jadwal
(3)    Jenis makanan

1.1.7        Penatalaksanaan
1)      Pencernaan Makan
(1)    Komposisi seimbang KH (60-70%), protein (10-15%) lemak (20-25%)
(2)    Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan status gizi, stress akut
(3)    Garam dibatasi bila ada HT dan digunakan pemanis secukupnya
(4)    Kandungan kolesterol < 300 mg/hari dan serat kurang lebih 25 gr / hari.
2)      Latihan jasmani
Teratur 3 – 4 x / minggu selama kurang lebih 0,5 jam
Bersifat (Ripe continous, rhythmical, interval, progressine endurance training)
Latihan tersebut misalnya jalan kaki, lari, jogging, renang dan bersepeda.
3)      Obat Hipoglikemik
Diberikan jika kadar glukosa darah masih belum baik misal : sultonil, bigguanid, inhibitor dan glukosidase.

1.2  Tinjauan Asuhan Keperawatan
1.2.1        Pengkajian
1.2.1.1  Anamnesa
1)      Kapan diabetes mellitus mulai timbul ?
2)      Obat apa yang sudah digunakan untuk mengobati diabetes mellitus ?
3)      Apakah keluarga mempunyai riwayat penyakit sama ?
4)      Bagaimana pola aktivitas selama sakit ?
5)      Apakah pasien tahu diet yang diperlukan untuk diabetes mellitus ?
6)      Bagaimana cairan yang dikonsumsi pasien ?
7)      Bagaimana pola eliminiasi selama sakit ?
1.2.1.2  Pemeriksaan Fisik
1)      Aktifitas / istirahat
Gejala   :   Lemah, letih, sulit bergerak atau berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan tidur
Tanda    :   Takikardia dan takipnea, penurunan kekuatan otot
2)      Sirkulasi
Gejala   :   Ada  riwayat HT, kesemutan pada ekstremitas
Tanda    :   Takikardia, hipertensi, nadi yang menurun, bola mata cekung, kulit panas
3)      Integritas ego
Gejala   :   Stress tergantung pada orang lain
Tanda    :   Ansietas, peka rangsang
4)      Eliminasi
Gejala   :   Perubahan pola berkemih (poliuria), kesulitan berkemih, nyeri tekan abdomen, diare
Tanda    :   Urine encer, pucat, kuning, poliuria, bising usus menurun
5)      Makanan dan cairan
Gejala   : Hilang nafsu makan, mual dan muntah, tidak mengikuti diet, peningkatan pemasukan glukosa atau karbohidrat, BB menurun
Tanda    :   Kulit kering, distensi abdomen, nafas bau aceton
6)      Neurosensori
Gejala   :   Pusing, sakit kepala, kebas, potensial, gangguan penglihatan
Tanda    :   Mengamuk, letargi, stupor, reflek tendon menurun 
7)      Pernafasan
Gejala   :   Merasa kekurangan oksigen, batuk
Tanda    :   Lapar udara, batuk dengan atau tanpa sputum
8)      Nyeri atau kenyamanan
Gejala   :   Abdomen yang tegang atau nyeri
Tanda    :   Wajah meringis dengan palpitasi tampak sangat berhati-hati 
9)      Keamanan
Gejala   :   Kulit kering, gatal, ulkus kulit
Tanda    :   Demam, kulit rusak, penurunan kekuatan umum, paralysis otot
10)  Seksualitas
Gejala   :   Masalah impotensi pada pria, kesulitan orgasme pada wanita

1.2.2        Rencana Asuhan Keperawatan
1.2.2.1  Diagnosa Keperawatan 1 : 
                    Nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitas jaringan yang ditandao dengan pasien mengatakan kelingking jari kaki sebelah kiri terasa nyeri yang ditandai dengan pasien tampak pucat, pasien sering menyeringai, pasien nampak lemas.
1)     Tujuan
(1)    Dalam 2 x 24 jam pasien dapat melaporkan nyeri berkurang
(2)    Nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil
1.      Skala nyeri berkurang antara 0 – 3
2.      Pasien nampak rileks
2)     Intervensi dan Rasional
(1)    Kaji vital sign
      R  :       Acuan untuk mengetahui kondisi pasien
(2)    Kaji tingkat dan lokasi nyeri
                        R :       Mengetahui keadaan dan perkembanganumum dari pada pasien
(3)    Beri tehnik distraksi
            R :        Mengalihkan focus perhatian sehingga perhatian terhadap nyeri dapat berkurang.
(4)    Beri tehnik relaksasi
            R :        Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk mengatasi nyeri / rasa tidak nyaman secara lebih efektif.

(5)    Beri lingkungan yang nyaman
            R :        Menciptakan  lingkungan yang nyaman agar pasien dapat beristirahat dengan tenang
(6)    Beri kompres hangat
R :         Melancarkan peredaran darah sehingga mengurangi rasa nyeri.
(7)    Konsultasi dengan dokter dalam pemberian analgesik
            R :        Untuk mengurangi nyeri
(8)    Atur posisi pasien senyaman mungkin
R :   Pasien merasa nyaman dan mengurangi rasa nyeri
(9)    Ajak pasien berkomunikasi tentang keadaan sakit
            R :        Mengurangi ketegangan dan mengalihkan perhatian pasien akan nyeri.
(10) Beri health education : anjurkan pasien mengurangi aktivitas
            R :        Membatasi  dan menghindari terjadinya nyeri.

1.2.2.2  Diagnosa Keperawatan 2 :
                    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder yang diakibatkan / disebabkan oleh hilangnya salah satu anggota tubuh yang ditandai dengan: pasien sering berdiam, diri, pasien tampak malu dengan keadaan yang saat ini, pasien sering menutup diri apabila ditanya oleh perawat.
1)      Tujuan : Pasien dapat menerima keadaan yang saat ini dialami keluarganya
2)      Intervensi dan Rasional :
(1)    Kembangkan bakat pasien
R :       Memberikan pengertian kepada klien bahwa dengan keadaan kondisinya saat ini klien masih bisa / dapat melakukan aktivitasnya semaksimal mungkin.
(2)    Bina hubungan saling percaya antara perawat dan klien
R :       Dengan membina hubungan saling percaya maka pasien dapat mengungkapkan keluh kesahnya kepada perawat.
(3)    Jaga privasi klien
R :       Dengan menjaga privasi klien maka secra tidak ;angsung kita memberikan penghormatan kepada klien, sehingga klien juga tidak merasa cemas apabila bercerita dengan perawat.
(4)    Kolaborasi dengan Team Rohani / Departemen rohani
R :       Departemen rohani dapat membantu  klien dalam support secara psikososial sehinga klien dapat menerima dengan lapang dada dengan keadaan yang saat ini.
1.2.2.3  Diagnosa Keperawatan 3 :
            Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder akibat pembedahan.
1)      Tujuan
Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi menurun dengan kriteria hasil tidak ada tanda-tanda infeksi dan peradangan setalah dilakukan pembedahan.
2)      Intervensi dan Rasional :
(1)    Observasi tanda infeksi dan peradangan
R :       Mengkaji perubahan-perubahan yang terjadi kepada klien
(2)    Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan
R :       Mencegah infeksi
(3)    Pertahankan tehnik aseptic dengan cara cuci tangan
R :       Kadar glucose yang tinggi terhadap media pertumbuhan kuman
(4)    Berikan antibiotik yang sesuai
R :       Penanganan awal untuk mencegah sepsis
(5)    Berikan antibiotik yang sesuai
R :       Penanganan awal untuk mencegah sepsis.

1.2.2.4  Diagnosa Keperawatan 4 :
                    Kekurangan volume berhubungan dengan deuresis osmotic dengan kelemahan haus, membran mukosa kering, turgor kulit buruk .
1)      Tujuan :
Kekurangan volume cairan teratasi dengan kriteria hasil, ada peningkatan energi, membran mukosa lembab, turgor kulit baik.
2)      Intervensi dan rasional :
(1)   Observasi suhu warna kulit dan kelembapannya
R :       Auskultasi keseimbangan cairan dapat menurunkan motilitas lambung.
(2)   Pantau makanan dan pengeluaran, catat berat jenis urine
R :       Memberi perkiraan kebutuhan cairan pengganti
(3)   Observasi perasaan kelalahan yang meningkat
R :       Pemberian cairan berpotensi menimbulkan gejala klinis
(4)   Berikan terapi cairamm (RL) sesuai indikasi
R :       Tipe dan jumlah cairan tergantung pada tingkat kekurangan cairan


1.2.2.5  Diagnosa Keperawatan 5 :
             Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan interupsi mekanis pada kulit / jaringan perubahan status metabolisme yang ditandai dengan gangguan pada lapisan kulit dan jaringan.
1)      Tujuan :
Mencapai penyembuhan luka dengan criteria hasil luka dapat sembuh dalam waktu yang ditentukan.
2)      Intervensi dan rasional :
(1)   Gunakan tehnik septic  dalam perawatan 
R :       Mencegah cross infection
(2)   Gunakan perekat halus untuk penggantian balutan yang sering
R :       Menurunkan resiko terjadinya trauma kulit
(3)   Periksa luka secara teratur dan catat karakteristik dan integritas kulit.
R :       Mencegah kegagalan proses penyembuhan dan komplikasi
(4)   Ingatkan pasien agar tidak menyentuh luka
R :       Mencegah kontaminasi

1.2.3        Evaluasi
1)      Skala nyeri berkurang antara 0 – 3
2)      Pasien dapat menerima keadaanya
3)      Tanda-tanda komplikasi tidak terjadi















DAFTAR PUSTAKA



Bates, Barbara. (1998). Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan. Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta: EGC.

Doengoes, E. Marilyn. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.

Harahao, Marwali. (2000). Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates.

Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Pearce, Evelyn. Anatomi Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT. Gramedia.

0 komentar:

Poskan Komentar