Senin, 08 April 2013

LP TEORI ASKEP ISK


 
BAB 1
TINJAUAN TEORI

1.1  Tinjauan Medis
1.1.1        Definisi
Infeksi saluran kemih ISK adalah ditemukannya bakteri dikandung kemih, yang umumnya steril (Mansjoer, 2001; 523).
ISK adalah berkembang biaknya mikroorganisme didalam saluran kemih yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain (Soeparman, 1999; 264).
Infeksi saluran kemih (UTI) adalah penyakit bakteri kedua yang paling banyak diderita disebabkan oleh kuman E. Coli, klabsiella, oreobacter, streptococcus, pyogenes (J. Reeves, 2001; 210).

1.1.2        Etiologi (Mansjoer, 2001; 523)
1.      Asending ® kuman dari bawah naik keatas biasanya bakteri enterik terutama E. Coli, proteus, stafilokokus dan bahkan psedomonas
2.      Lymphogen ® kuman dibawa oleh aliran limfe
3.      Hematogen ® kuman dibawa oleh aliran darah
4.      Organ sekitar yang terinfeksi misal peritonitis

1.1.3        Fisiologi (Evelin, 1995; 240)
Fisiologi sistem perkemihan : ginjal yang mengeluarkan sekret urin, setiap ginjal dilingkupi kapsul tipis dari jaringan fibrous dan membentuk pembungkus yang halus. Pembentukan kemih dimulai dari proses filtrasi  plasma pada glomerulus. Aliran darah ginjal adalah sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1.200 ml/menit. Bila hematokrit normal dianggap 45% maka aliran plasma normal sama dengan 660 ml/menit dialirkan melalui glomerulus kekapila bowmen ini dikenal GFR.
Ureter
Terdapat 2 ureter berupa 2 pipa saluran yang masing-masing bersambung dengan ginjal. Tebal ureter setebal tungkai bulu angsa dan panjangnya 35-40 cm. Terdiri atas dinding luar yang fibrous lapisan tengah yang berotot dan lapisan mukosa sebelah dalam.
Kandung kencing
Bekerja sebagai penampung urine, organ ini berbentuk buah pir (kendi) letaknya didalam panggul besar, didepan isi lainnya dan dibelakang simpisis pubis. Dindidng kandung kencing terdiri atas sebuah lapisan serus sebelah luar, lapisan berotot, lapisan sub mukosa dari epitelium transisional.
Uretra
            Sebuah saluran berjalan dari leher kandung kencing kelubang luar, dilapisi membran mukosa yang bersambung dengan membran yang melapisi kandung kencing. Meatus urinarus terdiri atas serabut otot lingkar yang membentuk sfingter uretrae. Pada wanita panjangnya 21/2 – 31/2 cm, pada pria 17 – 221/2  cm.

1.1.4        Patofisiologi (Mansjoer, 2001; 523)

 
















Sebagian besar merupakan infeksi asenden. Pada wanita jalur yang biasa terjadi adalah mula-mula dari kuman dianal berkoloni divulva, kemudian masuk kekandung kemih melalui uretra yang pendek secara spontan atau mekanik akibat hubungan sexual. Waniat lebih sering terkena ISK karena uretra pendek , masuknya kuman dalam hubungan seksual dan mungkin perubahan flora-flora vulva dalam siklus menstruasi pada beberapa wanita, frekuensi berkemih yang jarang juga memiliki peran.

1.1.5        Manifestasi Klinis (Mansjoer, 2001; 523)
1.      Dapat asimtomatis, terutama pada wanita
2.      Simtomatis akibat terinfeksi organisme yang lebih purulen
3.      Disuria
4.      Frekuensi miksi yang bertambah
5.      Nyeri suprapubik
6.      Bau yang tidak menyenangkan dari urin
7.      Urin keruh
8.      Demam
9.      Mual
10.  Nyeri pada ginjal
11.  Hipertermi
12.  Nyeri pada pinggang
13.  Sel darah putih meningkat

1.1.6        Pemeriksaan Penunjang (Soeparman, 1999; 268)
1.      Kultur organisme melalui urin terutama sampel dari urin tengah
2.      Aspirasi suprapubik bila tidak memungkinkan
3.      Tes stick untuk mengetahui adanya proteinuria, hematuria dan PH
4.      Pemeriksaan USG ginjal
5.      Pemeriksaan penunjang yang lebih invasif yaitu pielografi retrograt
6.      Sistoskopi khususnya pada ISK berulang untuk mencari faktor predisposisi

1.1.7        Penatalaksanaan (Mansjoer, 2001; 525)
1.      Pasien dianjurkan untuk minum air yang banyak agar diuresis meningkat
2.      Diberikan obat yang menyebabkan suasana urin alkali jika terdapat disuria berat
3.      Diberikan antibiotik yang sesuai
4.      Pasien dengan pielonefritis harus dirawat dirumah sakit
5.      Pemeriksaan makroskopik urin dan kultur secara berulang
6.      Tes fungsi ginjal
7.      Mencegah atau menghilangkan gejala, bakterimea dan kematian akibat ISK
8.      mencegah dan mengurangi progresi kearah gagl ginjal terminal
9.      Mencegah timbulnya ISK nyata (bergejala) pada trimester akhir kehamilan

1.2  Tinjauan Asuhan Keperawatan
1.2.1        Pengkajian
1.2.1.1        Anamnesa (Soeparman, 1999 dan Mansjoer, 2001; 523)
1.        Biodata pasien, nama, tanggal, umur, sudah berapa lama mengalami gejala
2.        Apakah mengalami nyeri pinggang
3.        Nyeri suprapubik
4.        Rasa terbakar waktu kencing
5.        Apakah merasa mual dan muntah
6.        Pernah mengalami kencing nanh
7.        Apakah pernah mengalami frekuensi buang air kecil yang jarang
8.        Pada laki-laki pernah mengalami penyakit prostat
9.        Pada anak-anak adakah kelaianan kongenital
1.2.1.2        Pemeriksaan fisik (Dongoes, 2000; 773)
1.      Aktifitas / istirahat
Gejala     :  keletihan, kelemahan, malaise.
Tanda     :  kelemahan otot, kehilangan tonus.
2.      Sirkulasi
Gejala     :  hipotensi / hipertensi, disritmia jantung, nadi lemah halus.
Tanda     :  takikardi,perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yang menurun dan tak ada, disritmia, kulit panas, kering dan kemerahan, bola mata cekung.
3.      Eliminasi
Gejala     :  perubahan pola berkemih biasanya peningkatan frekuensi, poliuria atau konstipasi, batu / kalkuli.
Tanda     :  perubahan warna urin, contoh kuning pekat, keruh oliguria.
4.      Makanan atau cairan
Gejala     :  peingkatan berat badan , edema, penurunan berat badan , mual muntah, anoreksia, nyeri ulu hati.
Tanda     :  perubahan turgor kulit / kelembaban.
5.      Neuro sensori
Gejala     :  sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot dan gelisah.
Tanda     :  gangguan status mental, contoh penurunan lapang pandang.
6.      Nyeri atau kenyamanan
Gejala     :  nyeri tubuh, sakit kepala.
Tanda     :  perilaku berhati-hati, distraksi.
7.      Pernapasan
Gejala     :  nafas pendek.
Tanda     :  takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi, kedalaman, batu produktif dengan sputum kental merah muda.
batuk dengan / tanpa sputum purulen, takipnea, sesak.
8.      Keamanan
Gejala     :  adanya reaksi tranfusi
Tanda     :  demam (sepsis, dehidrasi) ptikie, pruritus, kulit kering.



1.2.2        Rencana Asuhan Keperawatan
1.2.2.1        Nyeri berhubungan dengan peningkatan sensibilitas.
Batasan karakteristik :
Data subyektif
a.       Awitan tiba-tiba
b.      Komunikasi (verbal / kode) dari pemberi gambaran nyeri
Data obyektif
a.       Perilaku melindungi diri
b.      Memfokuskan pada diri sendiri
c.       Wajah tampak menahan nyeri
d.      Perubahan pada tonus otot
e.       Penurunan / peningkatan frekuensi pernafasan
Tujuan :
Nyeri pasien dapat terkontrol dan hilang
Kriteria hasil :                      
Melaporkan nyeri hilangdengan spasme terkontrol, tampak rileks, mampu tidur, istirahat dengan tepat
Intervensi dan Rasional :
1.      Catat lokasi, lamanya, intensitas (0-10) dan penyebaran. Perhatikan tanda nonverbal, contoh : peningkatan TD dan nadi, gelisah
R   :  Membantu mengevaluasi  kemajuan, nyeri tiba-tiba dan hebat dapat mencetuskan ketakutan
2.      Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke staf terhadap perubahan kejadian / karakteristik nyeri
R   :  Membantu memberikan kesempatan untuk pemberian analgesik sesuai waktu (membantu dalam meningkatkan kemampuan koping pasien dan dapat menurunkan ansietas)
3.      Berikan tindakan nyaman. Contoh : pijatan punggung, dan lingkungan
R   :  Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot dan meningkatkan koping
4.      Membantu dan dorong penggunaan nafas berfokus, bimbingan imajinasi dan aktivitas terapeutik
R   :  Mengarahkan kembali perhatian dan membantu dalam relaksasi otot
5.      Berikan kompres hangat pada punggung
R   :  Menghilangkan tegangan otot dan dapat menurunkan reflek spasme
6.      Memberikan obat sesuai indikasi. Contohnya analgesik
R   :  analgesik membantu dalam menurunkan dan menghilangkan rasa nyeri

1.2.2.2        PK sepsis berhubungan dengan proses inflamasi / infeksi sekunder terhadap infeksi saluran kemih
Tujuan :
Perawat akan menangani dan memantau komplikasi yaitu septikemia
Intervensi dan Rasional
1.      Pantau tanda dan gejala septikemia yaitu suhu tubuh > 380 C,           N : > 20 x/menit, sel darah putih > 12.000
R   :  Untuk mengetahui perkembangan dari pasien dan tindakan lanjut yang dibutuhkan
2.      Pantau terhadap perubahan dalam mental, kelmahan, malaise, normotermia, dan anoreksia.
R   :  Perubahan mental, kelemahan, malaise merupakan tanda dari septikemia
3.      Sesuai dengan program pengobatan dokter, berikan obat antibiotik, pantau dan tangani pemberian oksigen dan pengirimannya
R   :  Antibiotik membantu dalam pencegahan dari proses penyebaran infeksi yang sedang dialami
4.        Jika ada indikasi rujuk ke PK syok hipovolemik untuk informasi lebih lanjut
R   :  Membantu dalam menangani septikemia dan syok.
1.2.2.3 Nyeri berhubungan dengan Peningkatan Sensibilitas.
            Tujuan :
            Nyeri berkurang, penurunan kebutuhan terhadap analgetik, pasien mengatakan bahwa nyeri berkurang saat istirahat, aktivitas atau berkemih
Intervensi dan Rasional :
1.      Kaji tingkat, frekwensi episode nyeri pada area panggul, apakah bersifat unilateral atau bilateral.
R : Untuk menentukan lokasi infeksi dan penanganan yang akan diberikan
2.  Nyeri suprapubik dan dysuria.
R : Menandakan terjadinya infeksi pada kandung kemih
3. Amati, nilai dan laporkan kultur urine, urinalisis RBC, WBC, peningkatan pH (infeksi kandung kemih)
R : Jumlah bakteri > 100.000/ml menandakan adanya infeksi yang menyebabkan nyeri
4.  Beri analgetik dan evaluasi efeknya selama 30 menit, 1 ½ jam dan 3 jam untuk menentukan respon nyeri (aspirin, oxycodone, meperidine)
       R : Untuk mengontrol nyeri dan menanggulangi nyeri

1.2.3        Evaluasi (Mansjoer, 2001; 524)
1.      Nyeri dapat terkontrol
2.      Infeksi dapat teratasi
3.      Suhu tubuh dalam batas normal
4.      Urine tidak keruh
5.      Buang air kecil lancar







DAFTAR PUSTAKA

Capernito, Lynda Juall. (2000). Diagnosa Keperawatan : Aplikasi Pada Praktek Klinis. Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.

Doenges, Marilyn, E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Buku Kedokteran, EGC.  Jakarta.

Mansjoer Arief. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Media Aesculapius. FKUI.

Reeves Charlene. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Buku Saku. Salemba Medika.

Soeparman. (1999). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2. FKUI. Jakarta.

Pearce Evelyn. (1995). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 


0 komentar:

Poskan Komentar