Monday, 8 April 2013

LP TEORI ASKEP PERSALINAN

BAB I
TINJAUAN  TEORI
PERSALINAN

1.1    Tinjauan Medis
1.1.1.    Pengertian
Partus (persalinan) adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lahir dengan bantuan atau tanpa bantuan.
Partus adalah wanita yang sedang dalam keadaan persalinan. (Manuaba, 1998; 157)   
       
1.1.2.    Etiologi
1.1.2.1    Dalam persalinan ada dua hormon yang mempengaruhi dan dominan yaitu:
1).    Hormon estrogen : Meningkatkan sensitifitas otot rahim dan memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti oxcytoksin, prostaglandin, dan rangsangan mekanisme.
2).    Hormon progesteron : Menurunkan sensitifitas otot rahim, menghambat rangsangan dari luar menyebabkan relaksasi otot dan otot polos.

1.1.2.2    Teori yang menimbulkan adanya persalinan
1)    Teori keregangan : Keregangan otot rahim mempunyai batas tertentu oleh karena itu setelah melewati batas tertentu akan terjadi kontraksi.
2)    Teori penurunan progesteron : Proses  penuaan plasenta, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, penyempitan pembuluh darah, sehingga terjadi kebuntuan menyebabkan produksi progesteron mengalami penurunan.
3)    Teori oxcytoksin internal : Keseimbangan progesteron dan estrogen, meningkatkan pengeluaran oxcytoksin dan mengakibatkan peningkatan aktivitas kontraksi rahim.
4)    Teori prostaglandin : Peningkatan prostaglandin sejak hamil 15 minggu dikeluarkan decidua dan prostaglandin sebagai pemicu terjadinya persalinan.
5)    Tekanan  kepala bayi pada ganglion cervikalis dan fleksus franken house dapat menimbulkan kontraksi rahim dan reflek mengejan.
(Manuaba, 1998; 158 – 159)

1.1.3.    Fisiologi
    Tahap-tahap persalinan
Selama proses persalinan terbagi menjadi 4 tahap (kala), yaitu:
    Kala I
Ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah, karena servik mulai membuka dan mendatar. Kala pembukaan dibagi atas 2 fase :
(1). Fase laten    : dari pembukaan 0 – 3 cm ( 7- 8 jam)
(2). Fase aktif    : dibagi menjadi tiga :
1. Fase Akselerasi  : 3 – 4 cm ( 2 jam )
2. Fase Delatasi Maksimal : 4 – 8 cm ( 1- 2 jam)
3. Fase Deselerasi : 9 - 10 cm (1½ - 2 jam )
Kala II
Kala pengeluaran janin, his terkoordinasi, kuat, cepat dan lebih lama kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruangan panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Ibu merasa seperti ingin buang air besar, karena tekanan pada rektum dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perinium meregang.
Dengan his mengedan yang terpimpin akan lahirlah kepala diikuti seluruh badan bayi.
    Kala III
    Setelah bayi lahir kontraksi rahim beristirahat sebentar, uterus teraba keras dengan fundus uteri setinggi pusat, berisi plasenta yang menjadi tebal dua kali sebelumnya. Beberapa saat kemudian datang pelepasan dan pengeluaran plasenta. Dengan waktu 10-15 menit seluruh plasenta terlepas didorong kedalam vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit dorongan diatas symphisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-10 menit setelah bayi lahir, pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100–200 cc. 
    Kala IV
Masa dua jam setelah persalinan, masa ini untuk melakukan observasi karena sering terjadi perdarahan  2 jam pertama setelah persalinan. Hal-hal yang perlu diobservasi adalah:
Keadaan umum ibu
    Tanda-tanda vital
    Kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri
    Jumlah perdarahan
Selama persalinan perdarahan yang normal tidak lebih dari 400 cc.
(Mochtar Rustam,1990;103)

    Mekanisme persalinan
Pada minggu terakhir kehamilan segmen bawah rahim meluas untuk menerima kepala janin terutama pada primi dan juga pada multipara saat partus mulai.
Urutan turunnya kepala janin:
1).    Pada permulaan persalinan kepala anak tepat diatas PAP dengan posisi ubun-ubun depan dan belakang sama (SYNCLITISMUS)
2).    Ubun – ubun dengan tertahan symphisis sehingga ubun –ubun belakang lebih rendah karena bagian belakang ada lengkungan sakrum (ASYNTICLISMUS POSTERIOR)
3).    Dengan adanya his kepala makin turun sehingga tekanan symphisis terlepas dan kepala berputar lagi sampai ubun-ubun depan dan ubun-ubun belakang sama tinggi (ASYNTICLISMUS)
4).    Akhirnya sampai pintu bawah panggul dengan posisi kepala ubun-ubun depan lebih rendah (ASYINTICLISMUS ANTERIOR) sehingga posisi kepala dalam keadaan flexi
5).    Karena ruangan pintu bawah panggul lebih longgar dan lunak kepala mengadakan PUTAR PAKSI  dalam sehingga ubun-ubun kecil berada dibawah symphisis, saat ini akan terjadi  moulase kepala janin
6).    Dengan kekuatan his dan mengejan kepala makin maju dan mengadakan ekstensi dan defleksi (membuka pintu) dengan ubun-ubun kecil sebagai hypomuclion (pusat putaran) dan lahirlah ubun-ubun besar, dahi, muka, dan kepala seluruhnya
7).    Kemudian kepala mengadakan putar paksi (RESTITUSI) sesuai dengan letak punggung
8).    Selanjutnya melahirkan badan anak.
    (Mochtar Rustam, 1998; 94)

1.1.4.    Patofisiologi

o   
    Proses terjadinya persalinan karena adanya kontraksi uterus yang dapat menyebabkan nyeri. Ini dipengaruhi oleh adanya keregangan otot rahim, penurunan progesteron, peningkatan oxytoksin, peningkatan prostaglandin, dan tekanan kepala bayi. Dengan adanya kontraksi maka terjadi pemendekan SAR dan penipisan SBR. Penipisan SBR menyebabkan pembukaan servik.  Penurunan kepala bayi yang terdiri dari beberapa tahap antara lain enggament, descent, fleksi, fleksi maksimal, rotasi internal, ekstensi, ekspulsi kepala janin, rotasi eksterna. Semakin menurunnya kepala bayi menimbulkan rasa mengejan sehingga terjadi ekspulsi. Ekspulsi dapat menyebabkan terjadinya robekan jalan lahir akibatnya akan terasa nyeri. Setelah bayi lahir kontraksi rahim akan berhenti 5-10 menit, kemudian akan berkontraksi lagi. Kontraksi akan mengurangi area plasenta, rahim bertambah kecil, dinding menebal yang menyebabkan plasenta terlepas secara bertahap. Dari berbagai implantasi plasenta antara lain mengeluarkan lochea, lochea dan robekan jalan lahir sebagai tempat invasi bakteri secara asending yang dapat menyebabkan terjadi risiko tinggi infeksi. Dengan pelepasan plasenta maka produksi estrogen dan progesteron akan mengalami penurunan, sehingga hormon prolaktin aktif dan produksi laktasi dimulai.

1.1.5.    Klasifikasi
1)    Persalinan spontan : bila persalinan seluruhnya dengan kekuatan ibu sendiri.
2)    Persalinan buatan  : bila persalinan dengan bantuan tenaga dari luar yaitu alat forceps, vacum, dan sectio caesarea
3)    Persalinan anjuran : bila kekuatan untuk persalinan diambilkan dari luar dengan jalan rangsangan yaitu : dengan induksi, amniotomi, dan lain-lain.
(Manuaba, 1998; 157)

1.1.6.    Manifestasi Klinis
1.1.6.1    Tanda-tanda Persalinan akan terjadi, maka menunjukkan tanda khusus bahwa persalinan sudah dekat yaitu :
1)    Terjadi lightening
Menjelang kehamilan 36 minggu pada primigravida terjadi penurunan fundus uteri karena kepala bayi mulai masuk PAP yang disebabkan oleh :
(1)    Adanya kontraksi uterus Braxton Hick
(2)    Ketegangan dinding perut
(3)    Ketegangan ligamen rotundum
(4)    Gaya berat janin dimana kepala ada di bawah
Semua ini dirasakan oleh ibu dengan rasa sesak berkurang, bagian bawah rasa berat, terjadi kesulitan berjalan dan sering kencing.
2)    Terjadi his pendahuluan
Makin tuanya kehamilan pengeluaran estrogen dan progesteron makin berkurang sehingga menimbulkan kontraksi lebih sering yang disebut his palsu, sifatnya :
(1)    Pasien nyeri ringan di perut bagian bawah
(2)    Datangnya tidak teratur dan durasinya lebih pendek
(3)    Tidak bertambah bila beraktivitas

1.1.6.2    Gejala-gejala Persalinan
1).    Adanya his (kontraksi rahim)
    Sering dan teratur dengan frekuensi yang makin pendek dan sifatnya hilang timbul, his dirasakan dari perut bagian bawah menjalar ke pinggang dan berpengaruh terhadap pembukaan servik.
2).    Pengeluaran lendir dan darah
    Adanya his terjadi perubahan servik berupa pendataran, penipisan dan pembukaan sehingga timbul perdarahan akibat kapiler yang pecah, tanda ini disebut Bloody Show.
3).    Adanya ketuban pecah
    Pecahnya ketuban diharapkan persalinan terjadi dalam 24 jam.
4).    Adanya perubahan servik : servik makin lunak, penipisan dan pembukaan.

1.1.7.    Pemeriksaan Penunjang
1).    Pemeriksaan Laboratorium
(1.)    Pemeriksaan urine protein (Albumin)
Untuk mengetahui adanya risiko pada keadaan preeklamsi maupun adanya gangguan pada ginjal dilakukan pada trimester II dan III.
(2.)    Pemeriksaan urin gula
    Menggunakan reagen benedict dan menggunakan diastic.
(3.)     Pemeriksaan darah
2).    Ultrasonografi (USG)
Alat yang menggunakan gelombang ultrasound untuk mendapatkan gambaran dari janin, plasenta dan uterus.
3).    Stetoskop Monokuler
Mendengar denyut jantung janin, daerah yang paling jelas terdengar DJJ, daerah tersebut disebut fungtum maksimum.
4).    Memakai alat Kardiotokografi (KTG)
Kardiotokografi adalah gelombang ultrasound untuk mendeteksi frekuensi jantung janin dan tokodynomometer untuk mendeteksi kontraksi uterus kemudian keduanya direkam pada kertas yang sama sehingga terlihat gambaran keadaan jantung janin dan kontraksi uterus pada saat yang sama

1.1.8.    Penatalaksanaan
1.1.8.1    Memimpin persalinan dengan mengajarkan ibu untuk mengejan setiap ada his dengan cara tarik nafas sedalam mungkin dipertahankan dengan demikian diafragma membantu otot dinding rahim mendorong ke arah jalan rahim.
1)    Bila kontraksi hilang ibu dianjurkan nafas dalam secara teratur
2)    Demikian seterusnya sampai kepala anak akan lahir lalu ibu diminta untuk bernafas hal ini agar perinium meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala tidak terlalu cepat
3)    Menolong melahirkan kepala
(1)    Letakkan satu tangan pada kepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat
(2)    Menahan perinium dengan satu tangan lainnya yang dialasi duk steril agar tidak terjadi robekan.
(3)    Setelah muka bayi lahir diusap dengan kasa steril untuk membersihkan dari kotoran
4)    Melahirkan bayi
1.1.8.2    Periksa tali pusat
Bila ada lilitan tali pusat dilonggarkan dulu dan bila lilitan terlalu erat maka diklem pada dua tempat dan dipotong sambil melindungi leher anak.
1.1.8.3    Melahirkan anak dan anggota seluruhnya
1)    Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi (biparietal)
2)    Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan tarikan ke atas untuk melahirkan bahu belakang
3)    Selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh seluruhnya.
1.1.8.4    Merawat bayi
1)    Pegang erat bayi agar jangan jatuh, letakkan di perut ibu.
2)    Bebaskan jalan nafas bayi dengan menghisap lendir dari mulut dan hidung bayi
3)    Potong tali pusat yang sebelumnya diklem 15 cm dari perut bayi dan klem kedua 2 cm dari klem pertama lalu dipotong diantaranya, kemudian dijepit atau ditali, dibungkus kasa betadin atau kasa alkohol 70%
Setelah bayi lahir jangan lupa perhatikan perdarahan, kontraksi uterus dan robekan perinium. Jika ada dilakukan penjahitan.

1.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan
1.2.1    Pengkajian
1.2.1.1    Anamnesa
1.    Tahap I – Fase Aktif
1)    Keluhan kelelahan
2)    Kemampuan mengendalikan pernapasan / melakukan tehnik relaksasi
3)    Respon terhadap kontraksi
4)    Pernyataan gerakan janin
5)    Keluhan perdarahan
2.    Tahap I – Fase Transisi (Deselerasi)
1)    Kemampuan mempertahankan kontrol
2)    Keluhan defekasi
3)    Keluhan mual atau muntah
4)    Respon kontraksi
5)    Gangguan ketidaknyamanan pada extermitas
6)    Keluhan nyeri

1.2.1.2    Pemeriksaan Fisik
1).    Tahap I – Fase Aktif
Aktivitas
Dapat menunjukkan bukti kelelahan
Integritas Ego
Dapat tampak lebih serius dan terhanyut pada proses persalinan
Ketakutan tentang kemampuan mengendalikan pernapasan dan/atau melakukan tehnik relaksasi.
Nyeri/ketidaknyamanan
Kontraksi sedang, terjadi setiap 2,5 – 5 menit dan berakhir 30 – 45 detik.
Keamanan
Irama jantung janin terdeteksi agak dibawah pusat pada posisi verteks.
Denyut jaunting janin (DJJ) bervariasi dan perubahan periodic umumnya teramati pada respon terhadap kontraksi, palpasi abdominal dan gerakan janin.
Seksualitas
Dilatasi serviks dari kira-kira 4 sampai 8 cm (1,5 cm/jam multipara, 1,2 cm/jam nulipara).
Perdarahan dalam jumlah sedang.
Janin turun +1 - +2 dibawah tulang iskial.
2).    Tahap I – Fase Transisi (Deselerasi)
Sirkulasi
Tekanan darah (TD) meningkat 5 – 10 mmHg diatas nilai normal klien.
Nadi meningkat.
Integritas Ego
Perilaku peka
Dapat mengalami kesulitan mempertahankan kontrol, memerlukan pengingat tentang pernapasan.
Mungkin amnesik.
Dapat menyatakan, “ Saya tidak tahan lagi,” atau dapat menginginkan untuk,” Pulang dulu dan nanti kembali.”
Eliminasi
Dorongan untuk menghindari atau defekasi melalui fase (janin pada posterior)
Makanan/cairan
Nyeri/ ketidaknyamanan
Kontraksi uterus kuat terjadi setiap 2-3 menit dan berakhir 45-60 detik
Ketidaknyamanan tingkat hebat pada area abdomen/sakral
Dapat  menjadi sangat gelisah, menggeliat-geliat karena nyeri, atau ketakutan
Dapat melaporkan menjadi,” Terlalu panas,” sensasi kesemutan pada ujung jari dan wajah.
Tremor kaki dapat terjadi.
Keamanan
Diaforetik
Irama jantung janin terdengar tepat diatas simphisis pubis
Denyut jantung janin (DJJ)  dapat menunjukkan deselerasi lambat (sirkulasi uterus terganggu) atau deselerasi awal (kompresi kepala)
Seksualitas
Dilatasi serviks dari 8-10 cm
Penurunan janin dari +2 - +4 cm
Tampilan darah dalam jumlah berlebihan


1.2.2    Rencana Asuhan Keperawatan
1.2.2.1    Nyeri (akut)
Nyeri (akut) dapat berhubungan dengan tekanan mekanik dari bagian presentasi, dilatasi / regangan dan hipoksia jaringan, stimulasi saraf simpatik dan para simpatik, tegangan emosional.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
Mengungkapkan perilaku distraksi, wajah menunjukkan nyeri, penyempitan fokus respon autonomik.
Tujuan Keperawatan:
Mengungkapkan penurunan nyeri menggunakan tehnik yang terapiutik mempertahankan kontrol istirahat diantara kontraksi.
Tindakan / Intervensi :
1).    Kaji derajat ketidaknyamanan melalui isyarat verbal dan nonverbal.
Rasional : sikap terhadap nyeri dan reaksi terhadap nyeri dan berdasarkan pada pengalaman masa lalu dan konsep diri.
2).    Bantu dalam penggunaan tehnik pernapasan / relaksasi napas dalam yang tepat dalam masase abdomen.
Rasional : dapat memblok impuls nyeri dalam korteks serebral melalui respon kondisi dan stimulasi kutan. Memudahkan kemajuan persalinan normal.
3).    Anjurkan pasien untuk sering miring kiri
Rasional : posisi miring kiri menurunkan tekanan uterus pada vena kava tetapi pengubahan posisi secara periodik mencegah iskemia jaringan dan kekakuan otot serta meningkatkan kenyamanan.
4).    Anjurkan klien untuk sering berkemih. Palpasi diatas symphisis pubis untuk menentukan distensi
Rasional : mempertahankan kandung kemih bebas distensi, yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan, mengakibatkan kemungkinan trauma, mempengaruhi penurunan janin, dan memperlama persalinan
5).    Berikan infomasi tentang ketersediaan analgesik, respon / efek samping dan durasi efek analgesik pada lampu / situasi penyerta
Rasional : mungkin klien membuat pilihan persetujuan tentang cara pengontrolan nyeri
6).    Pantau frekuensi, durasi dan intensitas kontraksi uterus
Rasional : mendeteksi kemajuan dan mengawasi respon uterus abnormal
7).    Kaji sifat dan jumlah tampilan vagina, dilatasi servikal, penonjolan lokasi janin dan penurunan janin
Rasional : tingkat ketidaknyamanan meningkat sesuai dilatasi servik, janin turun dan ruptur pembuluh darah vena
8).    Intruksikan klien dalam menggunakan analgesik yang dikontrol pasien
Rasional : memungkinkan klien untuk mengatur kontrol nyerinya sendiri, biasanya dengan sedikit medikasi
9).    Dorong untuk upaya penggunaan teknik relaksasi
Rasional : meningkatkan rasa kontrol dan dapat mencegah / menurunkan kebutuhan medikasi
10).    Anjurkan klien untuk bergerak dengan perlahan
Rasional : analgesik mengubah persepsi, dan klien dapat jatuh karena mencoba turun dari tempat tidur
11).    Kaji TD dan nadi tiap 1-2 menit
Rasional : hipotensi maternal, efek samping paling umum dari anastesi  blok regional  dapat mempengaruhi O2 janin
12).    Libatkan kilen dalam percakapan untuk mengkaji sensori; pantau pola pernapasan dan nadi
Rasional : gangguan fungsi pernapasan terjadi bila analgesia terlalu tinggi, menimbulkan paralisis difragma
13).    Kaji terhadap kehangatan, kemerahan pada ibu jari atau bantalan kaki
Rasional : menyakinkan  penempatan kateter yang tepat untuk kontinuitas blok dan kadar yang adekuat dari agens anastesi
14).    Berikan analgesik dengan IV atau IM
Rasional : ambilan maternal mungkin bervariasi, khususnya bila obat diinjeksikan kedalam lemak subcutan sebagai pengganti otot
15).    Lakukan atau bantu dengan blok paraservikal bila servik dilatasi 4 - 5 cm
Rasional : menganastesi fleksus hipogastrik inferior dan ganglia, memberikan kelegaan selama dilatasi serviks
16).    Berikan oksigen dan tingkatkan masukan cairan biasa
Rasional : meningkatkan volume cairan sirkulasi, perfusi plasenta dan ketersediaan oksigen untuk ambilan janin
17).     Pantau DJJ dan catat penurunan variabilitas atau bradikardi
Rasional : bradikardia dan penurunan variabilitas janin adalah efek samping yang biasa dari blok paraservikal.
18).    Berikan bolus IV dari larutan RL tepat sebelum pemberian blok epidural.
Rasional : peningkatan kadar cairan sirkulasi membantu mencegah efek samping hipotensi berkenaan dengan blok.
19).    Berikan anastesi blok peridural atau kaudal dengan menggunakan kateter inwelling
Rasional : memberikan kelegaan bila persalinan aktif ditentukan.
20).    Berikan sunsinilkolin klorida dan bantu dengan intubasi bila terjadi kejang
Rasional : reaksi toksik sistemik mengubah sensorium / menyebabkan kejang bila obat diabsorbsi kedalam sistem vaskuler.

1.2.2.2    Perubahan eliminasi urin
       Perubahan eliminasi urin dapat berhubungan dengan perubahan masukan, perpindahan cairan, perubahan hormonal, kompresi kandung kemih, efek-efek anastesi regional.
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Perubahan jumlah / ferukensi berkemih, dorongan berkemih, retensi urin, perlambatan kemajuan persalinan.
Tujuan Keperawatan :
Mengosongkan kandung kemih.
Tindakan / intervensi :
1).    Palpasi diatas symphisis pubis
Rasional : mendeteksi adanya urin dalam kandung kemih dan derajat kepenuhan.

2).    Catat masukan dan haluaran urin
Rasional : peningkatan haluaran dapat menunjukkan retensi cairan berlebihan sebelum awitan persalinan dan/atau efek tirah baring
3).    Anjurkan upaya berkemih yang sering, sedikitnya setiap 1-2 jam
Rasional : tekanan dari bagian presentasi pada kandung kemih sering menurunkan sensasi dan mengganggu pengosongan komplet
4).    Posisikan klien tegak, alirkan air dari kran, cucurkan air hangat diatas perineum, atau biarkan klien meniup gelembung melalui sedotan
Rasional : Mempertahankan kandung kemih bebas distensi yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan, kemungkinan trauma, mempengaruhi penurunan janin dan memperlama persalinan.
5).    Ukur suhu dan nadi, perhatikan peningkatan. Kaji kekeringan kulit dan membran mukosa
Rasional : memantau derajat hidrasi
6).    Kateterisasi sesuai indikasi
Rasional : kandung kemih terlalu distensi dapat menyebabkan atoni, menghalangi turunnya janin atau menimbulkan trauma karena bagian presentasi janin

1.2.2.3    Ansietas, risiko tinggi terhadap
Faktor risiko dapat meliputi :
Krisis situasi, transmisi interpersonal dari orang lain, kebutuhan tidak terpenuhi.
Kemungkinan dibuktikan oleh :
(Tidak dapat diterapkan; adanya tanda / gejala untuk menegakkan diagnosa actual)
Tujuan Keperawatan :
Melaporkan ansietas dan atau terkonrol
Melakukan instruksi pelatih  / perawat
Tindakan/ Intervensi :
1).    Kaji tingkat ansietas klien melalui isyarat verbal dan nonverbal
Rasional : ansietas berlebihan meningkatkan persepsi nyeri dan dapat mempunyai dampak negatif terhadap hasil persalinan
2).    Informasikan klien bahwa ia tidak akan ditinggalkan sendirian
Rasional : membantu dalam menurunkan ansietas dan persepsi terhadap nyeri dalam korteks serebral, meningkatkan rasa kontrol
3).    Pantau  DJJ dan variabilitasnya atau TD ibu
Rasional : Ansietas yang lama dapat mengakibatkan ketidakseimbangan endokrin dengan kelebihan pelepasan epineprin, meningkatkan TD dan nadi
4).    Anjurkan penggunaan tehnik pernapasan dan relaksasi
Rasional : membantu dalam menurunkan ansietas dan persepsi terhadap nyeri dalam koteks serebral, meningkatkan rasa kontrol
5).    Evaluasi pola kontraksi / kemajuan persalinan
Rasional : peningkatan kekuatan / intensitas kontrasi uterus dapat meningkatkan masalah klien tentang kemampuan pribadi dan hasil persalinan
6).    Rujuk pada MK : Persalinan : Tahap I – fase laten, DK : Ansietas, risiko tinggi terhadap
Rasional : bila klien diterima selama fase aktif, intervensi yang biasanya diselesaikan selama fase laten perlu diberikan pada saat ini.
7).    Berikan kombinasi narkotik dan tranquilizer
Rasional : Tranquilizer mempunyai kerja narkotik menurunkan ansietas dan membantu klien memfokuskan pada teknik pernapasan  /  relaksasi

1.2.2.4    Koping individu / pasangan, tidak efektif, risiko tinggi terhadap
Faktor risiko dapat meliputi :
Krisis situasi, kerentanan pribadi, ketidakadekuatan sistem pendukung.
Kemungkinan dibuktikan oleh :
(Tidak dapat diterapkan, adanya tanda / gejala untuk menegakkan diagnosa actual)
Tujuan Keperawatan:
Mengidentifikasi perilaku koping efektif, terlibat dalam aktivitas untuk mempertahankan / meningkatkan kontrol.
Tindakan/intervensi :
1)    Tentukan pemahaman klien dan harapan terhadap proses persalinan
Rasional : kurang pengetahuan, kesalahan konsep atau harapan tidak realitis dapat berdampak negatif pada kemampuan koping
2)    Anjurkan pengungkapan perasaan 
Rasional : membantu perawat meningkatkan kesadaran tehadap kebutuhan individu, dan membantu klien / pasangan untuk menerima masalah.
3)     Beri penguatan terhadap mekanisme koping positif,  bantu relaksasi
Rasional : membantu klien dalam mempertahankan atau meningkatkan hormon
4)    Catat perilaku menarik diri
Rasional : remaja, terutama, dapat menarik diri dan tidak mengekspresikan kebutuhan untuk diperhatikan
5)    Berikan model peran sesuai indikasi
Rasional : klien dipengaruhi oleh orang disekitarnya dan dapat berespon secara positif  bila orang lain tetap tenang dan terkendali
6)    Berikan informasi dan perbaikan kesalahan konsep relaksasi
Rasional : meningkatkan koping dan harga diri pasangan
7)    Batasi pengungkapan / instruksi selama kontraksi pada pelatih tunggal
Rasional : memungkinkan klien memfokuskan perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan untuk mengikuti petunjuk
8)    Gunakan sentuhan dan kata-kata menyejukkan sebagai penguatan
Rasional : meningkatkan kepercayaan diri individu terhadap kemampuan sendiri untuk mengatasi atau menangani persalinan

1.2.2.5    Cidera, risiko tinggi terhadap
Faktor risiko dapat meliputi : efek obat-obatan, perlambatan motilitas gastrik, dorongan fisiologis
Kemungkinan dibuktikan oleh :
(Tidak dapat diterapkan ; adanya tanda / gejal untuk menegakkan diagnosa aktual)
Tujuan Keperawatan :
Mengungkapkan pemahaman individu tentang risiko dan alasan untuk intervensi khusus, mengikuti pengarahan untuk melindungi diri sendiri / janin dari cidera, bebas dari cidera / komplikasi yang dapat dicegah
Intervensi Keperawatan :
1)    Pantau uterus dan catat frekuensi, durasi dan intensitas kontraksi
Rasional : pelepasan plasenta dan hemoragi dapat juga terjadi kontraksi menetap
2)    Hindari meninggalkan klien tanpa perhatian
Rasional : meningkatkan keamanan bila pusing atau cetusan melahirkan terjadi setelah pemberian obat
3)    Tempatkan klien pada posisi agak tegak miring kiri
Rasional : meningkatkan perfusi plasenta dan mencegah sindrom hipotensif terlentang
4)    Berikan perawatan perineal setiap 4 jam dan p.r.n
Rasional : menurunkan risiko infeksi asenden, yang dapat terjadi khususnya pada pecah ketuban lama
5)    Pantau suhu dan nadi
Rasional : peningkatan suhu dan nadi adalah indicator-indikator terjadinya infeksi
6)    Berikan es batu atau cairan jernih pada klien bila tepat ; hindari makanan padat
Rasional : perlambatan motilitas gastrik menghambat pencernaan selama persalinan, membuat klien berisiko terhadap aspirasi
7)    Pantau urine terhadap keton
Rasional : keton urin menandakan asidosis metabolic yang diakibatkan dari defisiensi metabolisme glukosa, yang dapat menurunkan aktivitas uterus dan menyebabkan keletihan miometrik yang dapat memperlama persalinan
8)    Mungkinkan klien untuk bernapas pendek dan cepat atau meniup bila merasakan dorongan mengejan
Rasional : napas pendek dan cepat selama fase aktif mencegah mengejan terlalu dini
9)    Hentikan kecepatan aliran oksitosin bila kontraksi berakhir lebih dari 60 detik
Rasional : membantu mencegah pola kontraksi hipertonik dengan penurunan aliran darah plasenta terus menerus dan risiko ruptur uterus
10)    Berikan antibiotik I.V bila diindikasikan
Rasional: pemberian antibiotik selama persalinan masih kontroversil
1.2.2.6    Pertukaran gas, kerusakan, risiko tinggi terhadap
Faktor risiko dapat meliputi : perubahan suplai oksigen / aliran darah
Kemungkinan dibuktikan oleh :
(Tidak dapat diterapkan; adanya tanda / gejala untuk menegakkan diagnosa aktual)
Tujuan keperawatan :
Menunjukkan DJJ dan variabilitas denyut perdenyut dalam batasan normal (DBN), bebas dari efek-efek merugikan dari hipoksia selama persalinan
Tindakan / intervensi :
1)    Kaji adanya faktor-faktor maternal atau kondisi yang menurunkan sirkulasi uteroplasenta
Rasional : situasi risiko tinggi yang secara negatif mempengaruhi sirkulasi kemungkinan dimanifestasikan pada deselerasi akhir dan hipoksia janin
2)    Pantau DJJ setiap 15-30 menit bila DBN
Rasional : takikardi atau bradikardi janin adalah indikasi dari kemungkinan penurunan yang mungkin memerlukan intervensi
3)    Periksa DJJ segera bila pecah ketuban, dan periksa lagi 5 menit kemudian.
Rasional : mendeteksi distres janin karena prolaps tali pusat sama atau terlihat
4)    Intruksikan klien untuk tetap melakukan tirah baring bila bagian presentasi tidak masuk pelvis (stasi +4)
Rasional : menurunkan risiko prolaps tali pusat 
5)    Perhatikan dan catat warna risiko prolaps tali pusat
Rasional : pada presentasi verteks, hipoksia yang lama mengakibatkan cairan amniotik warna mekonium karena vagal, yang merelakskan anal janin
6)    Pantau turunnya janin pada jalan lahir melalui pemeriksaan vagina
Rasional : kompresi yang lama pada kepala merangsang respon vagal dan mengakibatkan bradikardia janin
7)    Kaji perubahan DJJ selama kontraksi, perhatikan akselerasi dan deselarasi
Rasional : mendeteksi bertanya hipoksia dan kemungkinan penyebab
8)    Pantau aktivitas uterus secara manual atau elektronik
Rasional : perkembangan hipertonisiti dapat mengurangi sirkulasi uteroplasenta janin

9)    Bicara pada klien / pasangan saat perawatan diberikan
Rasional : memberikan dukungan psikologis dan jaminan untuk menurunkan ansietas yang berhubungan peningkatan pemantauan

1.2.3    Evaluasi
1).    Kebutuhan fisiologis dan psikologis dipenuhi
2).    Komplikasi dicegah atau teratasi
3).    Ikatan keluarga dimulai
4).    Meningkatkan kesejahteraan janin dan maternal
5).    Memberikan dukungan fisik dan emosional





















DAFTAR PUSTAKA

Arief, Mansjoer. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1. Penerbit Media Aesculapius. Jakarta
Carpenito, Lynda juall. (1999). Buku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta
Doengoes E. Marylin. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta
Doengoes E. Marylin. (2001). Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi, EGC. Jakarta
Jones. (2001). Dasar-Dasar Obstetri Dan Ginekologi,  Edisi 6. Alih Bahasa Hadyanto. Jakarta

0 comments:

Post a Comment